Labels

Minggu, 21 April 2013

Terasi


Siapa sih yang gak kenal terasi. Terasi sangat populer di Asia Tenggara khususnya di Indonesia. Terasi berbahan baku rebon atau ikan, dimana bahan baku ini bersifat perishable food atau cepat rusak.  Untuk menjadikan rebon menjadi terasi perlu diberikan berbagai perlakuan. Rebon harus dijemur di terik matahari selama satu hari hingga setengah kering dan warna rebon berubah menjadi kemerahan, kemudian dieramkan satu malam. Pagi harinya rebon yang setengah kering ini ditambah garam, digiling dan dijemur kembali selama satu hari. Warnanya pun mulai menjadi merah kehitaman. Kemudian dieramkan kembali selama satu malam. Pagi harinya digiling kembali dengan size gilingan yang lebih kecil. Setelah digiling dan berbentuk pasta, terasi sudah bisa dicetak. Proses pencetakan ini juga tidak sekedar dicetak, tetapi dengan cara dipukul-pukul dan dibanting-banting untuk bisa mendapatkan terasi yang padat dan menghasilkan produk berkualitas tinggi. Meskipun sudah berbentuk terasi, untuk mendapat aroma dan rasa terasi yang spesial, terasi baru bisa dikonsumsi setelah diinkubasi selama 30 hari. Pada saat itulah proses fermentasi masih terus berlangsung. Terasi tidak menggunakan pengawet buatan, meski demikian terasi mempunyai self life yang tinggi. Bahkan semakin lama, terasi akan semakin enak.

Begitupun dengan perjalanan hidup manusia. Untuk mendapatkan derajat yang tinggi dibutuhkan perjuangan yang tidak mudah dan semua membutuhkan proses. Perubahan tidak dilakukan secara instan, tetapi tahap demi tahap untuk mendapatkan perubahan yang awet pula. Usaha yang keras, kesabaran, ketelatenan dan keuletan sangat dibutuhkan untuk mendapatkan sebuah kesuksesan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar