Siapa sih yang gak kenal terasi. Terasi sangat populer di
Asia Tenggara khususnya di Indonesia. Terasi berbahan baku rebon atau ikan,
dimana bahan baku ini bersifat perishable food atau cepat rusak. Untuk menjadikan rebon menjadi terasi perlu
diberikan berbagai perlakuan. Rebon harus dijemur di terik matahari selama satu
hari hingga setengah kering dan warna rebon berubah menjadi kemerahan, kemudian
dieramkan satu malam. Pagi harinya rebon yang setengah kering ini ditambah
garam, digiling dan dijemur kembali selama satu hari. Warnanya pun mulai
menjadi merah kehitaman. Kemudian dieramkan kembali selama satu malam. Pagi harinya
digiling kembali dengan size gilingan yang lebih kecil. Setelah digiling dan
berbentuk pasta, terasi sudah bisa dicetak. Proses pencetakan ini juga tidak
sekedar dicetak, tetapi dengan cara dipukul-pukul dan dibanting-banting untuk
bisa mendapatkan terasi yang padat dan menghasilkan produk berkualitas tinggi. Meskipun
sudah berbentuk terasi, untuk mendapat aroma dan rasa terasi yang spesial,
terasi baru bisa dikonsumsi setelah diinkubasi selama 30 hari. Pada saat itulah
proses fermentasi masih terus berlangsung. Terasi tidak menggunakan pengawet
buatan, meski demikian terasi mempunyai self life yang tinggi. Bahkan semakin
lama, terasi akan semakin enak.
Begitupun dengan perjalanan hidup manusia. Untuk mendapatkan
derajat yang tinggi dibutuhkan perjuangan yang tidak mudah dan semua membutuhkan
proses. Perubahan tidak dilakukan secara instan, tetapi tahap demi tahap untuk
mendapatkan perubahan yang awet pula. Usaha yang keras, kesabaran, ketelatenan
dan keuletan sangat dibutuhkan untuk mendapatkan sebuah kesuksesan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar